Terkini …………..

Sila tukar link ke sana, tuan pondok sudah pindah. Terima kasih.
Sana mana? http://www.arabmykrk.com.

Advertisements

PINDAH

Assalamualaikum dan terima kasih atas kunjungan anda. Blog ini dalam proses perpindahan ke ArabMykrk.comSegala kesulitan amat dikesali.
Tarikh dijangka siap ialah1 Ramadhan 1430 H

RIADHUS SHALIHIN (1) : Taubat 5

8: Abu Said (Sa’ad bin Malik bin Sinan) Alkhudri berkata,
“Bersabda Nabi s.a.w. “Dahulu pada umat-umat yang terdahulu, terdapat seorang lelaki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. (Kemudian dia ingin bertaubat),
lalu dia menanyakan tentang orang yang teralim dari penduduk bumi, maka dia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Dia pun mendatanginya. Si pembunuh itu mengutarakan kemusykilannya iaitu dia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah masih ada peluang untuk bertaubat?
Jawab pendeta, “Tidak ada.” Maka segera dibunuhnya pendeta itu, sehingga genap seratus orang yang telah dibunuhnya.
Kemudian dia mencari lagi orang alim yang lain pula, ketika telah ditunjukkan kepadanya (orang alim) maka si pembunuh itu menerangkan bahwa ia telah membunuh seratus orang, apakah masih ada jalan untuk bertaubat?
Jawab si Alim, “Ya ada, siapakah yang boleh menghalangnya untuk bertaubat? Pergilah ke suatu tempat kerana di sana terdapat orang-orang yang taat kepada Allah, maka contohilah amalan mereka, dan jangan kembali semula ke tempat asalmu ini, kerana tempat ini tidak baik.”
Maka pergilah orang itu. Tatkala baru separuh perjalanan, tiba-tiba hamba Allah tersebut mati mengejut.
Maka bertekaklah Malaikat Rahmat dengan Malaikat Azab berkenaan jenazah itu.
Berkata Malaikat Rahmat, “dia telah berjalan untuk bertaubat kepada Allah dengan sepenuh hatinya.”
Berkata Malaikat Azab, “dia belum pernah berbuat kebaikan sama sekali!”
Maka datanglah seorang Malaikat berupa manusia dan dijadikannya sebagai juri (hakim) di antara mereka.
Dia berkata, “Ukurlah jarak di antara dua tempat – yang ditinggalkan dengan yang dituju, maka ke mana yang dia lebih dekat masukkanlah dia kepada golongan orang berkenaan.”
Mereka pun mengukurnya. Hasilnya jenazah itu didapati lebih dekat dengan tempat yang baik yang ditujuinya. Maka ruhnya dipegang oleh Malaikat Rahmat.
(Buchary, Muslim)
Dalam riwayat lain (sahih) : Allah memerintahkan kepada bumi yang ditinggalkan supaya menjauh dan bumi yang ditujuinya supaya mendekat.
Dalam riwayat lain : Diukur jarak kedua-dua tempat itu, maka mereka mendapatinya lebih dekat dengan tempat yang ditujui, maka diampunkannya.
Dalam riwayat lain : Maka condong (di bahagian dadanya) ke arah tempat yang dituju.
Rujukan:
Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawy (Terjemahan Salim Bahreisy). 1977. RIADHUS SHALIHIN. Bandung: PT ALMA’ARIF m.s 29-30

RIADHUS SHALIHIN (1) : Taubat 4

7: Zirr bin Hubaisy berkata, “Saya datang kepada Shafwan bin ‘Assal r.a untuk bertanya tentang hal mengusap khuf (sepatu boot),
maka ia bertanya, “Mengapakah engkau datang hai Zirr?”
Jawabku, “Untuk menuntut ilmu.”
Berkata Shafwan, “Sesungguhnya Malaikat menghamparkan sayapnya kepada orang yang datang menuntut ilmu, karena menyukai dengan apa yang dipelajari.”
Maka saya bertanya, “Sebenarnya saya merasa ragu dalam hatiku tentang haji, mengusap khuf (sepatu boot) sesudah buang air, sedang kau seorang sahabat Nabi .s.a.w. Apakah kau pernah mendengar Rasulullah menyebut tentang itu?”
Jawabnya, “Benar, baginda menyuruh kami jika kami sedang dalam perjalanan atau bermusafir supaya tidak membuka khuf kami sampai tiga hari tiga malam, terkecuali jika berjanabah harus dibuka. Izin tidak membuka khuf itu hanya kerana hadas kecil; buang air kecil, buang air besar atau tidur.”
Kemudian saya bertanya, “Apakah pernah kau mendengar Rasulullah menyebut tentang hal cinta?”
Jawabnya, “Ya, ketika kami dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah s.a.w. tiba-tiba seorang Badwi memanggil Rasulullah s.a.w. dengan suara yang keras. “Ya Muhammad.”
Dijawab oleh Nabi hampir menyamai suaranya, (nada suara orang yang kehairanan / tercengang / gila)
Maka saya peringatkan Badwi itu. “Rendahkan sedikit suaramu di depan Rasulullah s.a.w. kerana kelakuan sebegitu dilarang.”
Jawab Badwi, “Demi Allah, saya tidak akan merendahkan suara saya!”
Kemudian dia bertanya, “Bagaimana seorang yang kasih kepada sesuatu kaum, tetapi tidak dapat berkumpul dengan mereka?”
Jawab Nabi s.a.w. “Seseorang itu akan berkumpul dengan sesiapa yang dikasihinya pada hari kiamat.”
Safwan meneruskan ceritanya, “Kemudian Rasulullah s.a.w. selalu bercerita kepada kami, sehingga baginda menyebut tentang sebuah pintu gerbang di sebelah barat, yang lebarnya sepanjang perjalanan 40 atau 70 tahun.”
Sufyan iaitu salah seorang perawi menyatakan, “(Pintu gerbang itu) terletak di bahagian Syam, telah dijadikan oleh Allah sejak dijadikanNya langit dan bumi, ia terbuka untuk menerima taubat dan tidak akan tertutup sehinggalah matahari terbit daripadanya.”
(Attirmizi, Hadith Hasan Sahih)
7. Zirr bin Hubaish reported: I went to Safwan bin ‘Assal (May Allah be pleased with him) to inquire about wiping with wet hands over light boots while performing Wudu’. He asked me, “What brings you here, Zirr?” I answered: “Search for knowledge”. He said, “Angels spread their wings for the seeker of knowledge out of joy for what he seeks”. I told him, “I have some doubts in my mind regarding wiping of wet hands over light boots in the course of performing Wudu’ after defecation or urinating. Now since you are one of the Companions of the Prophet (PBUH), I have come to ask you whether you heard any saying of the Prophet (PBUH) concerning it?”. He replied in the affirmative and said, “He (PBUH) instructed us that during a journey we need not take off our light boots for washing the feet up to three days and nights, except in case of major impurity (after sexual intercourse). In other cases such as sleeping, relieving oneself or urinating, the wiping of wet hands over light boots will suffice.” I, then, questioned him, “Did you hear him say anything about love and affection?” He replied, “We accompanied the Messenger of Allah (PBUH) in a journey when a bedouin called out in a loud voice, ‘O Muhammad.’ The Messenger of Allah (PBUH) replied him in the same tone, ‘Here I am.’ I said to him (the bedouin), ‘Woe to you, lower your voice in his presence, because you are not allowed to do so.’ He said, ‘By Allah! I will not lower my voice,’ and then addressing the Prophet (PBUH) he said, ‘What about a person who loves people but has not found himself in their company.’ Messenger of Allah (PBUH) replied, ‘On the Day of Resurrection, a person will be in the company of those whom he loves.’ The Messenger of Allah then kept on talking to us and in the course of his talk, he mentioned a gateway in the heaven, the width of which could be crossed by a rider in forty or seventy years”.Sufyan, one of the narrators of this tradition, said: “This gateway is in the direction of Syria. Allah created it on the day He created the heavens and the earth. It is open for repentance and will not be shut until the sun rises from that direction (i.e., the West) (on Doomsday)”.[At-Tirmidhi, who categorised it as Hadith Hasan Sahih]Commentary:1. We learn from this Hadith that in ablution, it is permissible to wipe over light boots rather than washing the feet. It is called Mash. The period, in which Mash is intact, in case of travellers it is three days and three nights; while for the residents, it is one day and one night only. A precondition for it is that light boots should be clean and worn after full Wudu’. Ankles should also be covered. In case of breach of ablution, the wiping over the socks is sufficient, and there is no need for washing the feet. Wudu’ is invalidated by sleeping, call of nature and passing of wind. This is called Hadath Asghar. In the case of Hadath Akbar, which occurs because of coitus, menses and wet dream, washing of the whole body becomes obligatory. It means that the privilege of wiping over the light boots is also finished in this case, in the same way as it does after the expiry of period specified for it.2. One should associate himself with the pious people so that he is counted among them. One also comes to know many other points from this Hadith which every intelligent person can understand with a little effort.
Rujukan:
Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawy (Terjemahan Salim Bahreisy). 1977. RIADHUS SHALIHIN. Bandung: PT ALMA’ARIF m.s 27-29

RIADHUS SHALIHIN (1) : Taubat 3

4: Abu Musa Al-Asy’ary r.a. berkata, “Bersabda Nabi s.a.w. “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan rahmatNya pada waktu malam supaya bertaubat orang yang telah melakukan maksiat pada siang hari, juga mengulurkan tangan kemurahanNya pada waktu siang, supaya bertaubat orang yang berdosa pada waktu malam. Keadaan itu tetap berlangsung hingga matahari terbit dari arah Barat.”
(Muslim)
5: Abu Hurairah r.a. berkata, “Bersabda Rasulullah s.a.w. “Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah menerima taubatnya.”
(Muslim)

6: Abdullah bin Umar r.a. berkata, “Bersahda Nabi s.a.w. “Sesungguhnya Allah tetap menerima taubat seseorang hambaNya selama ruh (nyawanya) belum sampai di tenggorokan (hampir mati)
(At-Tirmizi – hadith bertaraf ‘hasan’)

Rujukan:
Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawy (Terjemahan Salim Bahreisy). 1977. RIADHUS SHALIHIN. Bandung: PT ALMA’ARIF m.s 26-27
%d bloggers like this: